Daycare Montessori Islami: Masa Depan Anak Anda Dimulai Hari ini
Bayangkan saja ketika kita memiliki anak yang berkembang sesuai dengan kaidah Islami, tentunya akan sangat membanggakan bukan? Anak belajar mandiri sambil mengaji dengan metode Montessori tanpa adanya kekhawatiran orang tua meninggalkan tugas pekerjaannya. Semua itu tentunya tumbuh dengan kesadaran Pendidikan oleh orang tua maupun Lembaga Pendidikan.
Daycare muslim berbasis Montessori tentu menjadi salah satu pilihan tempat bertumbuhnya anak-anak ketika orang tua tidak bisa menemani tumbuh kembang anak sehari-hari. Lembaga daycare berbasis Montessori menawarkan beberapa pendekatan, salah satunya yaitu pendekatan holistic untuk mengembangkan nilai Islami anak dengan menggabungkan kemandirian child-led yang didalamnya termasuk nilai tauhid dan akhlak sehari-hari.

Terdapat beberapa prinsip montesorri yang dapat diaplikasikan sesuai dengan basis Islami kepada anak, diantaranya yaitu:
- Lingkungan yang disiapkan, Dalam Montessori, lingkungan yang disiapkan dapat berupa ruang kelas, rumah, maupun ruang terbuka yang tertata rapi dan aman bagi anak.
Nilai Islami: Islam menekankan pentingnya lingkungan yang baik dalam membentuk akhlak. Lingkungan yang bersih, tertib, dan penuh ketenangan mencerminkan nilai thaharah (kebersihan) dan ihsan. Lingkungan juga dapat diperkaya dengan nilai tauhid, seperti mengingatkan bahwa segala yang ada adalah ciptaan Allah. - Keinginan alami untuk belajar, suatu penemuan yang berhasil diciptakan oleh anak terutama dalam lingkungan yang disiapkan – membangun tasa ingin tahu dalam diri anak dan kecintaan untuk belajar. Mereka tidak perlu diarahkan untuk mengeksplorasi lingkungan. Anak memiliki dorongan alami untuk belajar dan mengeksplorasi lingkungan tanpa harus selalu diarahkan.
Nilai Islami: Dalam Islam, rasa ingin tahu adalah bagian dari fitrah manusia. Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk berpikir, merenung, dan mencari ilmu. Ketika anak dibiarkan mengeksplorasi, mereka sedang menjalani proses mengenal tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kauniyah). - Pembelajaran konkret menggunakan tangan (Hands-On). Tangan menyerap informasi dengan cara yang konkret untuk kemudian diteruskan ke orak. Mendengar ata menonton sesuatu Adalah suatu hal, tetapi kita belajar pada tingkatan yang lebih mandalam ketika kita mengintegrasikan kegiatan mendengar atau menonton dengan menggunakan tangan kita. Kita beralih dari belaajr secara pasif menjadi belajar secara aktif.
Nilai Islami: Islam sangat menekankan amal (perbuatan) selain ilmu. Belajar dengan tangan melatih anak untuk menghubungkan ilmu dan amal sejak dini. Aktivitas praktis juga dapat diarahkan sebagai latihan amal shalih, seperti merapikan alat, membantu orang lain, dan merawat lingkungan.
- Periode Sensitif, Ketika seorang anak menunjukkan ketertatikan tertentu di suatu area, misalnya pergerakan, bahasa, matematika, membaca, ini dikenal sebagai periode sensitive.
Nilai Islami: Islam mengajarkan pendidikan sesuai tahapan usia. Mengenali periode sensitif anak berarti menghargai hikmah Allah dalam penciptaan manusia yang berkembang secara bertahap. Orang dewasa berperan sebagai murabbi yang peka terhadap waktu terbaik dalam menanamkan nilai dan keterampilan.
- Pikiran yang mudah menyerap tanpa sadar. Seorang anak akan menyerap pengalaman negative semudah pengalaman positif. Bahkan, mereka bisa meniru perasaan dan tingkah laku kita.
Nilai Islami: Islam menekankan keteladanan (uswah hasanah). Anak belajar akhlak lebih kuat dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, guru dan orang tua harus menjaga ucapan, sikap, dan emosi sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.
- Kebebasan dan Batasan. Dalam Montessori, anak-anak memiliki kebebasan untuk memilih apa yang diinginkannya (asalkan pilihan mereka tersedia), kebebasan untuk beristirahat dan mengamati anak lain (asalkan mereka tidak mengganggu anak lain), kebebasan untuk bergerak di ruang kelas (asalkan mereka menghormati orang di sekeliling mereka).
Nilai Islami: Dalam Islam, manusia diberikan kehendak bebas namun tetap terikat oleh syariat. Kebebasan anak dalam Montessori sejalan dengan konsep ini: anak bebas memilih selama tidak melanggar adab, tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
- Kemandirian dan tanggung Jawab. Dalam Montessori, anak-anak belajar untuk menjadi sangat mandiri. Kita tidak melakukan ini agar anak-anak tumbuh secepat mungkin. (Biarkan anak-anak menjadi anak-anak). Kita melakukan ini karena anak-anak menyukainya.
Nilai Islami: Islam mendorong kemandirian dan tanggung jawab sebagai bentuk amanah. Anak yang dilatih mandiri akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, sesuai dengan prinsip amanah dan taklif.
- Perkembangan individu. Montessori tidak hanya menghormati setiap garis waktu anak yang unik, tetapi juga fakta bahwa setiap anak mempunyai Tingkat energi yang berbeda dan mampu memfokuskan diri pada momen yang berbeda.
Nilai Islami: Islam mengakui bahwa setiap manusia diciptakan berbeda-beda. Menghargai perbedaan anak berarti mengamalkan nilai keadilan (‘adl) dan kasih sayang (rahmah), serta menghindari sikap membanding-bandingkan yang dapat melukai jiwa anak.
- Pengajar Montessori memiliki rasa hormat kepada anak-anak seperti layaknya menghormati orang dewasa. Ini bukan berarti orang dewasa tidak memegang kendali, mereka akan mengatur Batasan ketika diperlukan dengan cara yang asersif dan penuh rasa hormat.
Nilai Islami: Islam mengajarkan adab dan penghormatan terhadap sesama, termasuk kepada anak-anak. Rasulullah ﷺ menunjukkan sikap lembut, menghargai, dan mendengarkan anak, tanpa kehilangan peran sebagai pembimbing dan pemimpin. - Melakukan pengamatan memperlihatkan kepada kita bagaimana sejatinya anak-anak saat ini dan sekaligus membantu kita melihat apa ketertarikan mereka, apa yang ingin mereka kuasai, kapan terjadi perubahan perkembangan, dan pada waktu tertentu, kapan harus turun tangan untuk menetapkan Batasan atau memberikan bantuan kecil sebelum kembali.
Nilai Islami: Pengamatan adalah bagian dari sikap hikmah dan tadabbur. Dalam Islam, mendidik anak memerlukan kesabaran, kebijaksanaan, dan kepekaan agar intervensi yang dilakukan tepat, tidak berlebihan, dan tetap menjaga martabat anak.
Pendekatan Montessori yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam menghadirkan sebuah model pendidikan yang holistik dan berakar pada fitrah anak. Melalui lingkungan yang disiapkan, kebebasan yang terarah, pembelajaran konkret, serta penghormatan terhadap perkembangan individu, anak tidak hanya distimulasi secara kognitif dan motorik, tetapi juga dibimbing dalam pembentukan akhlak, adab, dan kesadaran spiritual. Nilai-nilai Islam seperti tauhid, amanah, tanggung jawab, keteladanan, dan kasih sayang menjadi landasan yang memperkuat praktik Montessori sehingga proses belajar tidak sekadar berorientasi pada kemampuan akademik, melainkan juga pada pembentukan karakter dan keimanan. Dengan demikian, Montessori berbasis Islami dapat menjadi pendekatan pendidikan yang relevan untuk menumbuhkan generasi yang mandiri, berilmu, berakhlak mulia, dan siap menjalani peran sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.
Daftar Pustaka
Davies, Simone. 2024. The Montessori Toddler: A Parent’s Guide to Raising a Curious and Responsible Human Being. Mizan Media Utama. Bandung.
Oleh : Bunda Noor Fitriana Martanti, M.Pd




