Jl. Kenari No. 77, Muja-muju, Umbulharjo, Yogyakarta

Jam Operasional

Senin - Jumat: 06.45 AM - 18.00 PM Sabtu: 07.00 AM - 16.00

Mengelola Emosi Saat Puasa Ramadhan Sambil Mengasuh Anak (Dalam Perspektif Islami)

“Jangan marah-marah saat puasa, nanti pahalanya berkurang, lho!”. Ayah bunda pasti sudah sering mendengar kalimat tersebut ya? Pada kenyataannya, menahan emosi saat puasa bukan hal yang mudah.

1. Bulan Ramadhan dan Emosi

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang menjadi momentum bagi setiap muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki akhlak. Puasa tidak hanya mengajarkan kita menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, serta kelembutan dalam bersikap. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa.

Bagi Ayah bunda yang sedang mengasuh anak, terutama anak usia dini, menjalani puasa bisa menjadi tantangan tersendiri. Di tengah kondisi fisik yang mungkin lebih mudah lelah, ayah bunda tetap dituntut hadir secara penuh untuk memenuhi kebutuhan anak yang aktif, ekspresif, dan masih belajar mengelola emosinya.

Tidak jarang, perubahan pola makan, waktu istirahat yang berkurang, serta aktivitas harian yang padat ayah bunda membuat emosi orang tua menjadi lebih sensitif. Tangisan, rengekan, atau perilaku anak yang sulit diatur bisa terasa lebih berat saat energi tubuh sedang menurun. Padahal, pada fase ini anak sangat membutuhkan respons yang tenang, konsisten, dan penuh kasih dari orang tua sebagai fondasi perkembangan emosinya.

Melalui pengelolaan emosi yang baik, puasa dapat tetap dijalani dengan tenang tanpa mengurangi kualitas pengasuhan kepada anak. Dengan pemahaman yang tepat, strategi yang realistis, serta kesadaran bahwa setiap orang tua juga manusia yang memiliki batas energi, masa puasa dapat menjadi momen pembelajaran kesabaran sekaligus penguatan ikatan antara orang tua dan anak.

 2. Penyebab Kenapa Orang Tua Sering Marah?

Beberapa penyebab yang sering di alami oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah:

  1. Kelelahan Fisik dan Mental Aktivitas seharian, baik bekerja maupun mengurus rumah, membuat energi terkuras. Ketika pulang, tubuh butuh istirahat, tapi anak-anak justru butuh perhatian.
  2. Kondisi Emosional yang Tidak Stabil Stres yang tidak tersalurkan bisa meledak ke orang yang paling dekat (anak).
  3. Ekspektasi yang Tidak Realistis Mengharap anak selalu patuh, rapi, tidak rewel membuat sedikit kesalahan pun terasa menyulut emosi.
3. Lalu Bagaimana Islam Memandang Puasa Sambil Mengasuh Anak?
 a. Puasa Adalah Melatih Kesabaran dan Pengendalian Diri

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan amarah dan perkataan yang tidak baik. Saat anak rewel atau sulit diatur, ayah bunda dapat menjadikan momen tersebut sebagai latihan kesabaran dan penguatan keimanan.

Perlu di ingat menahan amarah ketika lelah mengasuh anak merupakan bentuk jihad melawan hawa nafsu, yang memiliki nilai ibadah di sisi Allah SWT.

b. Puasa Meneladani Kelembutan Rasulullah SAW dalam Mengasuh

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat lembut kepada anak-anak. Beliau tidak mudah marah, bahkan ketika menghadapi anak-anak yang berperilaku aktif atau mengganggu aktivitas beliau.

Keteladanan ini menjadi pengingat bahwa kelembutan dan kesabaran dalam mengasuh anak merupakan bagian dari akhlak mulia seorang muslim.

c. Memahami Anak sebagai Amanah dari Allah SWT

Anak adalah titipan dan amanah dari Allah SWT. Mengasuh anak dengan sabar dan penuh kasih sayang merupakan bentuk tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Kesadaran ini membantu ayah bunda lebih berhati-hati dalam mengendalikan emosi, terutama saat kondisi fisik sedang lemah karena puasa.

4. Dampak Emosi Pada Anak

 Dari sisi psikologi amarah atau emosi orangtua  akan memiliki dampak yang serius pada anak.

  1. Bisa mengembangkan kecemasan, depresi, atau menjadi pribadi yang agresif.
  2. Rasa aman dan kepercayaan terhadap orangtua perlahan berkurang.
  3. Pola komunikasi dalam keluarga menjadi tegang dan tertutup.

Penelitian menunjukan bahwa:

“Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kemarahan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gangguan perilaku dan kesulitan emosional. “

(Baumrind, 1991 (Parenting Styles and Adolescent Development)

5. Bagaimana Mengelola Emosi dalam Mengasuh Anak Saat Menjalankan Puasa dalam perspektif Islami?

Mengelola emosi saat menjalankan ibadah puasa sambil mengasuh anak bukanlah hal yang mudah, tapi ayah bunda bisa menncoba tips berikut ini:

a. Dengan Dzikir dan Do’a

Ketika emosi mulai meningkat saat berpuasa, ayah bunda dapat menenangkan diri dengan:

  • Membaca istighfar
  • Mengucap tasbih
  • Mengingat bahwa setiap kesabaran bernilai pahala

Dzikir membantu menenangkan hati dan mengingatkan bahwa setiap ujian dalam pengasuhan adalah ladang amal.

b. Menjaga Kesehatan Fisik

Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan menjaga kesehatan. Oleh karena itu, ayah bunda tetap perlu menjaga asupan makanan dan kebutuhan lainnya, misalnya:

  • Sahur dengan makanan bergizi
  • Memenuhi kebutuhan cairan saat malam
  • Mengatur waktu istirahat

Tubuh yang sehat membantu ibadah dan pengasuhan berjalan lebih optimal.

c. Meminta Pertolongan Allah dan Membangun Dukungan Lingkungan

Dalam Islam, meminta pertolongan kepada Allah melalui doa adalah kekuatan utama. Selain itu, meminta bantuan pasangan atau keluarga bukanlah kelemahan, tetapi bagian dari ikhtiar menjaga amanah pengasuhan dengan baik.

d. Melatih Teknik Pernapasan dan Relaksasi

Ketika anak tantrum dan emosi mulai meningkat, ibu bisa melakukan teknik pernapasan dalam untuk menenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, tahan selama beberapa detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut.

Saat anak tantrum, emosi tidak hanya melonjak pada anak, tetapi juga pada ibu. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk menguasai teknik pernapasan dan relaksasi untuk menenangkan diri. Teknik pernapasan dalam adalah salah satu cara yang efektif.

e. Melakukan Aktivitas yang Menyenangkan Bersama Anak

Mengalihkan perhatian dengan kegiatan positif dapat membantu bunda dan anak lebih tenang. Cobalah melakukan aktivitas ringan seperti mewarnai, bermain puzzle, atau membuat kreasi Ramadhan bersama.

Misalnya, Bunda bisa mengajak anak melakukan aktivitas yang menyenangkan, seperti mewarnai, bermain puzzle, atau membuat kreasi Ramadan bersama. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya membantu mengalihkan perhatian anak, tetapi juga menciptakan momen kebersamaan yang menyenangkan.

Bunda juga bisa mengajak anak membantu menyiapkan menu berbuka. Libatkan mereka dalam memilih menu, mencuci buah dan sayuran, atau menata meja makan. Dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama, Bunda dan anak bisa merasa lebih tenang dan bahagia.

f. Mengatur Waktu Istirahat yang Cukup

Kurang tidur bisa memperburuk suasana hati dan membuat bunda lebih mudah emosi. Salah satu menjaga emosi ibu perlu tidur yang cukup. Oleh karena itu, penting untuk tetap menjaga pola tidur meskipun jadwal selama Ramadhan berubah.

Usahakan untuk tidur lebih awal setelah shalat Tarawih agar tubuh mendapatkan istirahat yang cukup. Bunda juga bisa menggunakan waktu siang untuk tidur sejenak saat anak juga beristirahat. Istirahat yang cukup akan membantu Bunda menjaga emosi tetap stabil dan lebih siap menghadapi tantrum anak.

g. Menitipkan Anak-anak ke Sekolah atau Lembaga Daycare

Saat ayah bunda ingin fokus bekerja dan beribadah, sedangkan anak-anak perlu pendampingan penuh, ayah bunda bisa menitipkan anak-anak pada lembaga penitipan anak atau daycare, sehingga anak-anak tetap mendapatkan pengawasan dan pendampingan orang dewasa juga stimulasinya tetap terpenuhi dengan maksimal.

Mendaycarekan anak juga menjadi salah satu solusi saat ayah dan bunda membutuhkan Pendampingan untuk anak sedangkan ayah bunda harus bekerja dan mejalanakn ibadah. Dengan menitipkan anak di lembaga daycare ayah bunda merasa tenang dan anak-anak akan aman.

Ayah bunda, mengelola emosi saat puasa sambil mengasuh anak adalah bagian dari perjalanan spiritual seorang muslim. Setiap rasa lelah, setiap kesabaran menahan amarah, dan setiap usaha tetap lembut kepada anak merupakan amal kebaikan yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Puasa menjadi kesempatan untuk tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan kasih sayang dalam keluarga. Dengan niat yang tulus, kesabaran yang terus dilatih, serta doa yang tidak putus, orang tua dapat menjalani puasa dengan lebih tenang sekaligus memberikan pengasuhan terbaik bagi anak.

Mengelola emosi saat puasa sambil mengasuh anak memang bukan hal yang mudah. Namun, dengan pemahaman yang baik, strategi yang tepat, serta sikap yang lebih bijak terhadap diri sendiri, tantangan tersebut dapat dilalui dengan lebih tenang. Penting untuk diingat bahwa menjadi orang tua bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus belajar, berusaha, dan hadir dengan penuh kasih untuk anak.

Puasa dapat menjadi momen untuk melatih kesabaran sekaligus memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Dengan hati yang tenang dan pikiran yang lebih terkelola, ibadah puasa dapat dijalani dengan lebih bermakna, dan proses pengasuhan pun tetap berjalan dengan penuh cinta dan kehangatan.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan keberkahan bagi setiap orang tua dalam menjalankan ibadah puasa dan amanah mengasuh buah hati. Aamiin.

 

Sumber

  1. https://www.albata.id/parenting/psikologi-anak-islam/cara-menjaga-emosi-ibu-selama-bulan-puasa/
  2. https://www.sekolahimsya.sch.id/7-cara-islami-mengendalikan-marah/
  3. https://www.alodokter.com/5-cara-kelola-emosi-saat-puasa-biar-nggak-gampang-marah
  4. https://lifestyle.kompas.com/read/2025/02/27/210500320/4-cara-mengelola-emosi-saat-mengasuh-anak-di-bulan-puasa?page=all

 

Oleh: Miss. Isnaini M, Amd.Keb
Kepala Cabang Alifa MBDC Gamping

 

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Comment


slot gacor