Memiliki anak adalah sebuah perjalanan hebat yang tidak dapat dijelaskan dengan kata atau kalimat sederhana. Setiap proses tumbuh kembangnya merupakan momen yang tidak akan terulang dan sangat berharga untuk dilewatkan. Sebagai orang tua, tentu kita ingin mendampingi setiap fase perkembangan anak dengan penuh perhatian dan cinta.
Perjalanan ini dimulai sejak si kecil masih berada di dalam kandungan. Dengan sepenuh hati, orang tua berusaha menjaga dan memberikan yang terbaik. Ketika anak lahir ke dunia, rasa sayang dan tanggung jawab itu pun tumbuh berlipat ganda.
Masa Newborn: Awal Perjalanan Tumbuh Kembang Anak
Masa newborn (bayi baru lahir) merupakan tahapan awal setelah anak lahir. Fase ini sering kali menguras waktu, tenaga, dan emosi orang tua. Tidak jarang orang tua harus terjaga hampir setiap malam untuk menemani si kecil. Namun fase ini berlangsung relatif singkat, sekitar 0–3 bulan.
Pada masa newborn, terdapat beberapa aspek perkembangan penting yang perlu diperhatikan.
1. Perkembangan Refleks Sensorik
Pada tahap ini, bayi mulai mengembangkan refleks dasar seperti menggenggam dan merespons suara di sekitarnya.
2. Perkembangan Fisik dan Motorik
Bayi mulai belajar mengangkat kepala, tengkurap, dan menggerakkan tubuhnya secara bertahap sebagai dasar perkembangan motorik kasar.
3. Perkembangan Sosial dan Emosional
Di fase ini, bayi mulai mengenali orang tua dan membangun ikatan emosional. Anak akan merespons ekspresi, suara, dan sentuhan. Bayi juga dapat merasa gelisah saat berpisah dengan orang tua. Respons orang tua yang hangat—seperti membalas senyuman atau menenangkan saat menangis—sangat penting untuk membangun komunikasi dua arah dan rasa aman.
Perkembangan Bahasa sebagai Dasar Potty Training
Secara umum, anak mulai babbling (mengeluarkan suara tanpa makna) pada usia sekitar 6 bulan. Kemampuan merespons panggilan dan komunikasi yang lebih efektif biasanya berkembang di usia 18 bulan. Pada rentang usia inilah orang tua mulai dapat memperkenalkan potty training secara bertahap.
Namun, tantangan terbesar dalam potty training sering kali bukan pada tekniknya, melainkan pada kecemasan orang tua saat membandingkan anak dengan anak lain. Penting dipahami bahwa setiap anak memiliki waktu kesiapan yang berbeda. Potty training bukan perlombaan, melainkan bagian dari tahapan perkembangan (developmental milestone) anak.
Kapan Waktu yang Tepat Memulai Potty Training?
Menurut dr. Catharine M. Sambo, Sp.A, tidak ada usia pasti untuk memulai potty training. Yang terpenting adalah melihat kesiapan anak, baik secara fisik, perilaku, maupun komunikasi.
Tanda Kesiapan Anak untuk Potty Training
1. Kesiapan Fisik
Secara fisik, anak umumnya mulai siap di usia 18 bulan. Anak sudah mampu berjalan dan duduk dengan stabil. Pada tahap awal, orang tua dapat mengajak anak ke kamar mandi setiap 1–2 jam, membantu melepas celana, dan memperkenalkan posisi duduk atau jongkok di toilet atau potty.
2. Kesiapan Perilaku
Anak mulai menunjukkan tanda ingin buang air, seperti menyendiri, tampak gelisah, atau memegang area popok. Ini merupakan sinyal penting bahwa anak mulai mengenali sensasi tubuhnya.
3. Kesiapan Komunikasi
Orang tua dan anak perlu menyepakati kata sederhana, seperti “pipis” atau “pup”, untuk memudahkan komunikasi. Berikan respons yang menenangkan dan hindari hukuman. Pada tahap awal, kegagalan adalah bagian dari proses belajar anak.
Tahapan Action Plan Potty Training
Setelah kesiapan anak terpenuhi, orang tua dapat mulai melakukan langkah-langkah berikut:
-
Melepas popok secara bertahap
-
Mengganti dengan celana dalam yang nyaman
-
Menggunakan pakaian yang mudah dilepas
-
Menetapkan jadwal rutin ke toilet (misalnya setelah makan atau bangun tidur)
-
Mengajarkan kebersihan setelah potty, seperti membersihkan diri dan mencuci tangan
Berikan pujian saat anak berhasil, dan tetap bersikap tenang ketika anak belum berhasil. Konsistensi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar sangat penting agar anak tidak bingung dengan aturan yang berbeda.
Potty Training Bukan Perlombaan
Orang tua tidak perlu merasa khawatir atau terburu-buru. Setiap anak memiliki waktunya sendiri untuk siap. Tidak ada usia ideal atau batasan pasti kapan anak harus lepas dari popok.
Yang terpenting adalah kesabaran, dukungan, dan konsistensi. Jangan pernah merasa gagal dalam proses potty training, karena setiap usaha membutuhkan waktu. Ingatlah bahwa sabar lebih penting daripada cepat.
Referensi
-
Firdausy, N.Q., M.Sc., Sp.A. Toilet Training: Tahap Penting Anak Siap Hidup Mandiri – mayapadahospital.com
-
Sambo, C.M., Sp.A. Toilet Training – idai.or.id
-
Yustanta, B.F. Application of Toilet Training and the Habits of Enuresis in Children – jptam.org
Oleh:
Bunda Gunti Afsari, S.Pd
(Kepala Cabang Alifa MBDC Pandega Marta)




